BAB V LANDASAN TEORITIK DAN EMPIRIK PEMBELAJARAN TEMATIK
A.    Landasan
Pembelajaran tematik berangkat pada tiga landasan yaitu:
1.      Landasan Filosofis
Secara filosofis bahwa anak didik mempunyai kemampuan untuk melakukan perubahan secara signifikan dalam kehidupannya walaupun bersifat evolusionis, karena lingkungan hidup anak didik merupakan suatu dunia yang terus berproses secara evolusiaonis pula.
2.      Landasan Psikologi
Secara teoritik maupun praktik pembelajaran tematik berlandaskan pada psikologi perkembangan dan psikologi belajar. Psikologi perkembangandiperlukan terutama dalam menentukan isi atau materi pembelajaran tematik yang diberikan keada anak diidk agar tingkat keluasan dan kedalamnya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi dalam hal bagaimana isi/materi pembelajaran tematik tersebut disampaikan kepada anak didik dan bagiamana pula anak diidk harus mempelajarinya.
Dari sisi psikologi belajar bahwa anak didik:
a.       Memilki kognitif, tidka diperoleh secara pasif, tetapi anak didik secara aktif mengkontruksi struktur kognitifnya.
b.      Belajar mempertimbangkan seoptimal mungkin proses keterlibatan anak didik.
c.       Pengetahuan sesuatau dikonstruksi secara personal.
d.      Pembelajaran perlu melibatkan pengaturan situasi kelas.
e.       Kurikulum adalah seperangkat pembelajaran, materi, dan sumber.
3.      Landasan Yuridis
Dalam implementasi pembelajaran tematik diperlukan payung hukum sebagai landasan yuridisnya. Payung hukum yuridis adalah sebagai legalitas penyelenggara pembelajaran tematik, dalam arti bahwa pembelajaran tematik dianggap sah bila telah mendapatkan legalitas formal.
Dalam pembelajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan ynag mendukung pelaksanaan pembelajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah: UUD 1945, UU no 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak, dan UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pedidikan Nasional.
B.     Teori belajar yang melandasi pembelajaran tematik
1.      Teori perkembangan Jean Piaget
Menurut Jean Piaget, seorang anak maju melalui empat tahap perkembangn kognitif, antara lahir dan dewasa, yaitu: tahap sensorimotor, pra operasioanal, operasi kongkrit dan operasi formal.
Tahap sensori motor merupakan tahap awal perkembangan mental anak. Perkembangan mental itu terus bertambah hingga mencapai puncaknya pada tahap operasioanal formal. Pada tahap operasional formal ini seorang anak sudah dapat berpikir secra abstrak dan logis.
Pada tahap operasional konkret siswa mulai dapt memandang dunia secara objektif dan berorientas secara konseptual. Berpikir secara operasional konkret dapat dipandang sebagai tipe awal berpikir ilmiah.
Piaget yakin bahwa pengalaman-pengalaman fisik dan manipulasi lingkungan penting bagi terjadinya perubahan perkembangan. Selain itu ia juga berkeyakinan bahwa interaksi sosial dengan teman sebaya, khususnya berargumentasi, berdiskusi, membantu memperjelas pemikiran, yang pada akhirnya membuat pemikiran itu menjadi lebih logis.
Dari implikasi teori piaget, jelaslah guru harus mampu menciptakan keadaan pembelajar yang mampu untuk belajar sendiri. Artinya guru tidak sepenuhnya mengajarkan suatu bahan ajar kepada pembelajar, tetapi guur dapat membangun pembelajar yang mampu belajar dan terlibat aktif dalam belajar.
2.      Teori pembelajaran konstruktivisme
Esensi dari teori kontruktivisme adalah ide bahwa harus siswa sendiri yang menemukan dan mentranformasikan sendiri suatu informasi kompleks apabila mereka menginginkan informasi itu menjadi miliknya.
Prinsip-prinsip yang sering diambil dari konstruktivisme menurut suparno, antara lain:
a.       Pengetahuan dibangun oleh siswa secara aktif
b.      Tekanan dalam proses belajar terletak pada siswa
c.       Mengajar adaka membantu siswa belajar
d.      Tekanan dalam proses belajar lebih pada proses bukan pada hasil akhir
e.       Kurikulum menekankan partisipasi siswa dan
f.        Guru sebagai fasilitator
Secara umum prinsip-prinsip tersebut berperan sebagai referensi dan alat refleksi kritis terhadap praktik, pembaruan, dan perencanaan pendidikan.
3.      Teori Vygotsky
Menurut Vygotsky bahwa pembelajaran terjadi apabila anak bekerja atau belajar menangani tugas-tugas yang belum dipelajari namun tugas-tugas itu masih berada dalam jangkauan kemampuannya atau tugas-tugas tersebut berada dalam zona of proximal development (wilayah pekembangan proksimal).
zona of proximal development (wilayah pekembangan proksimal) adalah perkembangan sedikit di atas perkembangan seseorang saat ini. Vygotsky yakin bahwa fungsi mental yang lebih tinggi pada umumnya muncul dalam percakapan atau kerja sama antar individu, sebelum fungsi mental yang lebih tinggi itu terserap ke dalam individu tersebut.
4.      Teori Bnadura
Bandura mengklasifikasi empat fase belajar dari pemodelan, yaitu
a.       Fase Atensi
Fase pertama dalam belajar pemodelan adalah memberikan perhatian pada suatu model.
b.      Fase Retensi
Fase ini bertanggung jawab atas pengkodean tingkah laku model dan menyimpan kode-kode itu di dalam ingatan (memori jangka panjang)
c.       Fase Reproduksi
Fase reproduksi mengizinkan model untuk melihat apakah komponen-komponen urutan tingkah laku sudah dikuasai oleh si pengamat (pembelajar)
d.      Fase Motivasi
Pada fase ini si pengamat akan termotivasi untuk meniru model, sebab meraka merasa bahwa dengan berbuat seperti model, mereka akan memperoleh penguatan.
5.      Teori Bruner
Teori Bruner yang selanjutnya disebut pembelajaran penemuan (inkuiri) adalah suatu model pengajaran yang menekankan pentingnya pemahaman tentang struktur materi (ide kunci) dari suatu ilmu yang dipelajari, perlunya belajar aktif sebagai dasar dari pemahaman sebenarnya, dan nilai dari berpikir secara induktif dalam belajar. Menurut Bruner belajar akan lebih bermakna bagi siswa jika mereka memusatkan perhatiannya untuk memahami struktur materi yang dipelajari.




Komentar

Postingan populer dari blog ini